Showing posts with label pengetahuan. Show all posts
Showing posts with label pengetahuan. Show all posts

Thursday, March 29, 2012

Semua Orang Bisa Jadi Penulis Hebat

Oleh : Joni Lis Efendi

“Cerita-cerita memiliki kekayaan yang melebihi kenyataannya. Tulisan saya mengetahui lebih banyak daripada saya. Yang harus dilakukan seorang penulis adalah mendengarkan bukunya. Ia akan membawamu ke tempat yang tidak kamu duga.”
Modeleine L’engle
(Penulis novel A Wrinkle in Time)

Siapa saja memiliki peluang sama besarnya dengan J.K. Rowling, Stephen King, John Grisham, Habiburrahman El-Shirazy, Asma Nadia, Budi Dharma, Seno Gumira Ajidarma, Gus TF Sakai, Andrea Hirata, Afifah Afra, dan sebagainya, untuk jadi penulis beken. Nggak butuh rumus nyelimet, teori kusut-masai, harus jadi pengelana bertahun-tahun untuk dapatin segudang pengalaman, kalo cuma pengen menulis sebuah novel hebat atau cerpen yang keren. Karena semuanya sudah ada dalam pikiran kita. Sesuatu yang teramat dekat, bukan?

Perkaranya hanya satu, bisa atau nggak dia nulis apa yang sudah ada dalam batok kepalanya itu menjadi sebuah karya yang memikat. Kamu mungkin pernah membaca novel dari pengalaman hidup penulisnya langsung, seperti novel-novelnya NH Dini, Pipiet Senja, dan yang lagi banyak dibicarakan orang sekarang tetralogi Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, yang hampir 90 persen adalah pengalaman hidup penulisnya. Karya-karya mereka itu begitu mengagumkan dan penuh pesona yang mampu menggetarkan dada orang-orang yang membacanya. Padahal mereka ini hanyalah orang-orang biasa, bahkan mungkin nggak lebih hebat dari publik figur yang bertitel selebritis yang saban hari kita tongkrongin wajahnya di layar kaca.


Tapi penulis-penulis hebat itu mampu menuliskan perjalanan hidupnya menjadi jalinan cerita yang apik memikat. Novel yang mereka tulis itu terasa lebih hidup, penuh pesona, indah dan terasa lekat dengan diri si pembaca. Inilah nilai lebih kreativitas. Dan, kamu pun bisa melakukan hal yang sama, atau bahkan bisa lebih hebat lagi dari mereka.

Banyak orang yang menyimpan obsesi pengen jadi penulis tersohor (top, beken, nomor wahid se-Indonesia kapan perlu bisa ngalahin J.K. Rowling) setelah melihat betapa enak dan mapannya kehidupan penulis yang karyanya booming. Sayangnya, mereka cuma melihat kulit luarnya saja. Mereka cuma lihat sisi enaknya saja jadi seorang penulis yang terkenal. Tapi malas untuk berdarah-darah mengasah kemampuan menulisnya. Celakanya lagi, mereka menutup mata dan mati-matian membela diri kalo novel merekalah yang terbaik, nggak ada satu pun yang boleh dikoreksi, titik. Tapi nyatanya, novel itu biasa-biasa saja nggak ada nilai lebihnya. Buktinya, belum terbit-terbit juga.

Mereka itu seperti katak dalam tempurung berlumut. Nggak mau jujur, atau mungkin takut, untuk melihat realita yang ada, bahwa nyata-nyatanya karya mereka itu memang masih “jelek”. Mereka juga menulis itu-itu aja dengan gaya yang datar-datar aja; klise, norak, ngebosanin, dan mutar-mutar kayak komedi putar. Singkatnya, mereka bukan penulis yang kreatif, bisanyanya cuma “mengitik” alias mengekor saja karya yang best seller.

Aneh bin nyebalin, mereka nggak mau dikasih saran apalagi dikoreksi. Aduh, bagaimana cara menghadapi orang kayak gini?
Ke laut aja kali ya…

Dalam pikiran penulis-penulis malas plus nggak kreatif itu, nulis ya nulis. Nggak usah capek-capek bikin gaya baru, tema baru, tokoh yang aneh-aneh, biasa-biasa sajalah. Capek, kan kalo bikin novel yang ceritanya aneh-aneh gitu.

Ya, emang harus mau capek kalo pengen jadi penulis beken. Kamu bisa baca bagaimana kegigihan J.K. Rowling memelihara ide besarnya untuk menulis kisah Harry Potter, yang diancang-ancangnya bakal jadi 7 serial, selama lima tahun. Dia nggak buru-buru untuk menulis novelnya, tapi dengan kreatif mencari menulis diskripsi tokoh-tokoh ceritanya dengan begitu detail. Rowling juga mengakui karakter tokoh dalam Harry Potter banyak terilhami dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Yang patut dicontoh, Rowling nggak menulis karakter tokoh ceritanya itu dengan gaya yang biasa-biasa saja. Dia menambahkan ide-ide baru yang menyegarkan, meledak-ledak dan menggairahkan sehingga pembacanya nggak enek membacanya.
Pikiran yang meledak-ledak dan penuh kejutan itulah yang bernama kreativitas. Inilah yang dikatakan Bruner dalam bukunya “Toward a Theory of Instruction”, tentang makna sederhana dari kreativitas sebagai kejutan efektif. Hasil dari olahan kreativitas itu dapat berupa barang, atau gagasan, yang mengejutkan karena berbagai kemungkinan. Misalnya sesuatu yang baru, belum pernah ada, belum pernah terpikirkan, unik, khas, dan lain sebagainya. Sesuatu itu dikatakan efektif karena berbagai kemungkinan pula, misalnya karena bermanfaat, mempermudah kerja, memperindah, dan lain-lain.
Walau sesuatu yang baru itu menganggumkan dan penuh kejutan, tapi jika ditulis bertele-tele juga nggak efektif. Jadinya cuma cerita asing yang sulit dicerna dan bisa bikin muntah.

Kang Abik, panggilan akrab Habiburraham El-Shirazy, yang menulis novel Ayat Ayat Cinta (AAC) sebenarnya bukan menulis tema yang baru, yakni tentang cinta. Coba kamu bongkar lagi koleksi novelmu kebanyakan pasti tentang tema cinta, kan? Lalu, apa kelebihannya?
Dalam AAC, kang Abik nggak terjebak dalam alur cinta picisan yang hambar dan itu-itu saja. Ada yang segar di dalamnya, juga kejutan cerita yang tak terduga. Ditambah lagi dengan kuatnya pesan-pesan moral yang dipertunjukkan oleh karakter tokoh ceritanya. Keindahan Kota Cairo menjadi bingkai cerita yang turut menghadirkan kesan kuat dalam novel ini. Bagi kamu yang sudah membaca novelnya, pasti dapat merasakan sendiri dimana letak kelebihan novel AAC ini.

Lalu, coba kamu bandingkan dengan novel-novel epigon (yang meniru-niru) AAC, adakah sesuatu yang baru di dalamnya? Semuanya serba pengulangan yang membosankan.
Sedangkan novel Laskar Pelangi yang ditulis Andrea Hirata, memunculkan sesuatu yang baru tentang pendidikan, yang sangat sedikit diangkat secara total dalam sebuah karya novel. Walau novel yang bercerita tentang pengalaman kanak-kanak, tapi Andrea Hirata mampu menghadirkan kejutan-kejutan yang tak terduga dalam novelnya. Sehingga novel ini mampu mengalirkan energi positif bagi pembacanya dan memberikan pencerahan yang cukup kuat.

Dikutip dari buku: Writing Donuts: Nulis itu Selezat Donat, karya Joni Lis Efendi

Hukum Menulis Cerpen

Sebagai penikmat sastra –dan kadang-kadang iseng menulis karya sastra– pernah terlintas di benak saya bagaimana hukum menulis cerpen (apalagi novel)? Bukankah ada seperti unsur membohongi gitu? Menulis cerpen itu kan mengarang (insya') dan mengarang itu kan mengada-ada –heheh–, apa nggak "ngapusi", membohongi? Kan tokoh-tokohnya, kejadiannya, latar belakangnya, tempat kejadiannya; bias jadi rekaan semua,walau diangkat dari kejadian sehari-hari dengan merubah pelakunya.

Hal ini pernah merisaukan pikiran saya lumayan agak lama, sebelum saya mendiskusikannya dengan beberapa Guru-Guru Besar saya yang masing-masing memberikan jawaban berbeda sesuai dengan wijhah nadhor (sudut pandang) masing-masing, meski inti jawaban adalah sama.

Cerpen, dalam istilah Arab disebut "Riwayah" atau "qisshoh qoshiroh" atau "usthuroh" (tapi kalau ini lebih tepatnya berarti legenda); itu tidak ada hukum yang pasti dalam ilmu fiqih, maksudnya tidak ada bab khusus dalam ilmu fiqih yang membahas tentang itu. Berbeda dengan menggambar –baik 2 dimensi atau 3 dimensi­– yang terdapat dalil syariat sekaligus terjadi berbagai macam ikhtilafu-r Ro’yi (perbedaan pendapat) antar para fuqoha’ (pakar fiqih).

Maka jika melihat pada ketiadaan syariat memberikan hukum jelas terhadap sesuatu, bisa jadi menulis cerpen itu termasuk Mubah; namun karena faktor tertentu, ia bisa jadi juga haram, makruh, atau malah berpahala (begitu pula hukum membacanya) merujuk pada kaidah "al-ashlu fis syai-i al-ibahah ma lam yadullad dalil ala tahrimih"; asal segala sesuatu adalah boleh, selama tak ada indikator pengharaman.

Karena sejak dulu di dunia Arab –yang darinya terlahir empat madzhab itu– cerpen berkembang pesat, mulai "Kalilah wa Dimnah", "Alfu Lailah wa Lailah", "Qeis Majnun Layla" dan sebagainya. Dan tak satupun ulama madzhab yang meributkan apalagi memperselisihkannya. Bahkan sastra Arab sendiri telah jauh berkembang sejak pada masa sebelum Islam. Dan siapapun tahu bahwa cerpen masuk pada bagian ilmu Adab, atau Sastra

Sekedar untuk diketahui juga, Nabi Saw. diutus saat bangsa Arab berada dalam masa keemasan sastra mereka. Makanya Al-Qur’an turun dengan tingkat sastra yang ketinggiannya tidak bisa ditandingi oleh siapapun.

Secara to the point, cerpen itu dalam cara menghukuminya masuk pada kaidah "lil wasa-il hukmul maqashid", tergantung penggunaan. Sederhananya, cerpen adalah hanya sebuah alat, wasilah, atau perantara. Maka bisa jadi ia berpahala kalau mengantarkan pembacanya ingat pada Allah, seperti fiksi-fiksi Islamy. Berdosa bahkan haram seperti novel-novel yang membangkitkan syahwat dan mengarahkan pembacanya pada maksiat. Bisa juga ia tak bernilai pahala atau dosa, seperti cerpen-cerpen yang fungsinya sekedar pelepas lelah, atau cerpen buat anak-anak, fiksi-fiksi fantasi, dan seterusnya.

Lepas daripada itu, bertutur dengan menyelipkan pendidikan, pemikiran, nasehat melalui media ini sebenarnya adalah salah satu uslub syariah (metode syariat). Lihat dalam Al-Qur'an atau Hadits, banyak sekali cerita-cerita bukan? Walau tentu saja kisah nyata.

Oleh karenanya, menulis sebuah cerpen bisa "ada gunanya" setelah memenuhi beberapa kriteria, apalagi kita adalah seorang muslim yang dituntut tidak boleh membuang waktu terhambur begitu saja. Semisal menulisnya untuk tujuan dakwah, dengan menyisipkan nilai-nilai agama di dalamnya, mengembangkan kreativitas dan daya imajinasi, tidak mengganggu kewajiban, tidak ada unsur sengaja membohongi, membuat fitnah, memprovokasi, menjatuhkan nama baik, dan seterusnya.

Memukul rata bahwa membuat cerpen adalah "ngapusi", maka jadinya haram; adalah tentu tidak tepat. Sebab semua tahu bahwa cerpen adalah sastra, adab, dan dari dulu, tak ada satupun ulama yang meributkan adab. Apalagi sampai membid'ahkan dengan alasan tak ada di zaman Nabi. Kentara jika kurang memahami sejarah dan Uslub Qur’ani itu sendiri.

Alhasil, cerpen itu tergantung niat penulisnya, bisa jadi ia mubah, makruh, haram, sunnah, bahkan wajib. Bisa jadi ia berpahala, tak bernilai apa-apa, bahkan berdosa; semua kembali ke masing-masing penulis dan apa tujuannya.

Akhirnya, yang terpenting adalah niat, tak hanya cerpen, semua jenis dan model tulisan pun begitu, sebab ia adalah hanya sarana saja. Ya seperti makan, minum itu; asalnya kan mubah, bisa jadi bernilai ibadah kalau kita niatkan untuk suplemen biar giat sholat, atau malah dosa kalau diniatikan biar semangat saat hendak melakukan dosa. So, innamal a'malu binniyyah. Wallahu a'lam :) (*)

Penulis Awy Ameer Qolawun. FLP Arab Saudi.

[sumber]

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More